192 views

Thomas Alva Edison dan Dr. Masaru Emoto

Catatan Ringan.  Alkisah dari Ohio USA, pada tanggal 11 Februari 1847, lahir seorang anak bernama panggilan Tommy, anak yang tergolong biasa saja dan ia tidak mampu mengikuti pelajaran di sekolahnya sampai-sampai dikeluarkan dari sekolahnya.  Sang guru memberikan surat kepada Tommy untuk disampaikan pada ibunya.

Sesampai di rumah surat tersebut dibacakan ibunya pada Tommy: “Putra Anda seorang jenius. Sekolah ini terlalu kecil untuk menampungnya dan tidak memiliki guru yang cakap untuk mendidiknya. Agar anda mendidiknya sendiri,”

Maka sejak saat itu Tommy dididik ibunya sendiri di rumah dengan bebas dan leluasa tanpa aturan seperti di sekolah pada umumnya.  Ia juga rajin membaca buku ilmiah dewasa, ditambah sifatnya yang selalu ingin tahu dan sifat pantang menyerah. Pada usia 12 tahun ia sudah memiliki laboratorium kimia kecil dalam rumahnya.  Setahun kemudian dia berhasil membuat telegraf yang sekalipun bentuk dan modelnya sederhana dan primitif tapi sudah bisa berfungsi.

Di usianya yang masih belia, Tommy sudah bekerja dan mencari uang sendiri dengan berjualan koran di kereta api selama beberapa tahun. Kemudian Tommy bekerja sebagai operator telegraf, sampai akhirnya Tommy pun naik menjadi kepala mesin telegraf di Amerika.  Di usia 32 tahun Tommy menciptakan bohlam, bola lampu pijar yang mampu mengubah dunia jadi terang benderang.

Setelah ibunya meninggal, ia menemukan selembar surat yang dulu diberikan gurunya untuk disampaikan pada ibunya, di surat tersebut tertulis: “Putra anda anak yang bodoh, kami tidak mengizinkan anak Anda bersekolah lagi.”  Sambil menangis dia menulis di buku diary: “Saya Thomas Alva Edison, adalah seorang anak yang bodoh, yang karena seorang ibu yang luar biasa, mampu menjadi seorang jenius pada abad kehidupannya

Jika kita menikmati lampu yang terang saat ini, sebenarnya kita berhutang bukan pada seorang Thomas Alva Edison, tetapi kepada seorang ibu yang telah berdo’a lewat perkataannya yang baik.

lampu pijar

Dr. Masaru Emoto (1934-2014), seorang peneliti dari Hado Institute di Tokyo, Jepang pada tahun 2003 menemukan bahwa partikel molekul air ternyata bisa berubah-ubah tergantung perasaan manusia disekelilingnya, yang secara tidak langsung mengisyaratkan pengaruh perasaan terhadap klasterisasi molekul air yang terbentuk oleh adanya ikatan hidrogen.  Emoto juga menemukan bahwa partikel kristal air terlihat menjadi indah dan mengagumkan apabila mendapat reaksi positif disekitarnya, misalnya dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Namun partikel kristal air terlihat menjadi buruk dan tidak sedap dipandang mata apabila mendapat efek negatif disekitarnya, seperti kesedihan dan bencana. Lebih dari dua ribu buah foto kristal air terdapat di dalam buku Message from Water (Pesan dari Air) yang dikarangnya sebagai pembuktian kesimpulan nya sehingga hal ini berpeluang menjadi suatu terobosan dalam meyakini keajaiban alam. Emoto menyimpulkan bahwa partikel air dapat dipengaruhi oleh suara musik, doa-doa dan kata-kata yang ditulis dan dicelupkan ke dalam air tersebut.

kristal air emoto

Lewat dua cerita di atas bisa kita ambil kesimpulan bahwa sesuatu yang baik akan terlahir dari perkataan yang baik, karena setiap perkataan itu adalah do’a.  Tubuh manusia terdiri dari 70% air, maka tidaklah aneh kalau tubuh kitalah yang paling cepat bereaksi dengan perkataan kita yang keluar dari mulut kita sendiri.  Kalau molekul air saja bisa merekam dan bereaksi dengan perkataan yang baik apalagi organ tubuh kita yang lebih komplek, seperti jantung dan otak.  Maka tidaklah salah kalau kita dianjurkan untuk selalu berkata yang baik dan menghindari perkataan yang sia-sia apalagi perkataan buruk.  Kalau perkataan baik saja bisa berdampak positif pada tubuh kita apalagi kalau bacaan Al-Qur’an.  Sesungguhnya sebaik-baiknya perkataan adalah Kitabullah…

Related Post

tolong komentarnya ya

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *