Melogikakan Safar Yang Romantis

Catatan Ringan.

Pernah, bahkan sering saya bepergian ke luar daerah karena tugas dari pekerjaan, ada senangnya berkelana ke daerah yang belum pernah kita kunjungi ditambah lagi mendapatkan uang transport, uang saku dan lainnya dari kantor tempat bekerja. Terkadang saya dititipi sama isteri minta dibawakan oleh-oleh dan adakalanya saya kebingungan mau membawakan apa, terlebih kalau kita tidak bisa menemukan barang atau makanan khas dari daerah tersebut, mau belikan baju takut salah ukuran, lagian baju kan banyak dijual dimana aja, di kota asal juga ada. Akhirnya saya putuskan, mending ngasih uangnya aja biar dia bisa beli apa saja yang dia suka. Ternyata saya salah, isteri ternyata lebih suka sesuatu yang punya kenangan dari kota yang kita datangi walaupun cuma selembar handuk, jelas ga bakal salah ukuran.

Apa yang membedakan orang-orang yang suka membeli sesuatu di suatu tempat khusus dengan orang-orang yang tak peduli dengan tempatnya tapi barang yang dibeli memang diperlukan, dimanapun belinya ga masalah?
Sepertinya type orang yang romantis memang suka mengumpulkan kenangan lewat barang yang dibeli atau diberi dari suatu tempat tertentu. Sementara orang yang dominan berpikir logis ga perlu kenangan tersebut, kalo mau beli barang ya cari di tempat terdekat dengan harga termurah dan bawanya tidak merepotkan, apalagi dalam perjalanan jauh.

Safar atau perjalanan adalah sebuah perjuangan yang melelahkan, sehingga Allah pun memberikan dispensasi atau keringanan ibadah bagi musafir (orang yang melakukan perjalanan). Shalat boleh dijama’ dan atau diqashar, boleh tidak berpuasa, minimal jauh perjalanan adalah sekitar 83 km (menurut pendapat Imam Syafi’i).
Kita juga dilarang untuk meminta sesuatu oleh-oleh pada musafir, karena itu akan menambah berat beban perjalanannya.
Barang siapa meminta-minta kepada orang lain tanpa adanya kebutuhan maka seolah-olah ia memakan bara api (H.R. Ahmad).
Kita dianjurkan untuk mempermudah urusan orang lain, bukan menambah berat urusan orang lain.
Barangsiapa yang membantu menghilangkan satu kesedihan (kesusahan) dari sebagian banyak kesusahan orang mukmin ketika didunia maka Allah akan menghilangkan satu kesusahan (kesedihan) dari sekian banyak kesusahan dirinya pada hari kiamat kelak. Dan barangsiapa yang memberikan kemudahan (membantu) kepada orang yang kesusahan, niscaya Allah akan membantu memudahkan urusannya didunia dan di akhirat. Dan barangsiapa yang menutup aib orang muslim , niscaya Allah akan menutup aibnya dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah akan selalu menolong seorang hamba selama dia gemar menolong saudaranya. (HR. Muslim)

Mari kita membiasakan, dan merubah kebiasaan meminta oleh-oleh dengan memberi bekal kepada teman atau keluarga yang akan melakukan perjalan, safar.
Ada baiknya juga bagi musafir kalo pulang membawa oleh-oleh meski tidak diminta, semampunya, karena bagaimanapun juga tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah, sadaqah dan menyenangkan hati orang lain itu adalah perbuatan baik yang disukai oleh Allah.

One Comment

Tinggalkan Balasan ke oprol evorter Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *