Berburu dan Memancing

Catatan Ringan.  Berburu adalah praktik mengejar, menangkap, atau membunuh hewan liar untuk dikonsumsi (daging, susu), untuk bisnis perdagangan (kulit, tanduk, gading), atau untuk kesenangan/rekreasi.  Memancing adalah bagian dalam berburu, dikhususkan dalam menangkap hewan air seperti ikan, udang, cumi-cumi dan lainnya.

Pada jaman purba manusia dikenal dengan masyarakat nomaden (suka berpindah tempat ketika sumber makanan sudah tidak tersedia di alam), masih mengandalkan berburu dalam memenuhi keperluan hidup terutama untuk makan, seperti berburu rusa, manusia belum mengenal budidaya tanaman atau beternak hewan.  Setelah peradaban manusia berkembang, kegiatan berburu jauh berkurang karena untuk memenuhi keperluan hidupnya bisa lebih mudah, praktis dan lebih menguntungkan dengan mengganti kegiatan berburu dengan beternak dan bertani/berkebun.

Berburu pada dasarnya adalah kegiatan mencari nafkah untuk diri sendiri dan untuk anggota keluarga, oleh karenanya kegiatan berburu paling umum dilakukan oleh laki-laki sebagai kepala keluarga.  Pada jaman sekarang, jaman dimana pertanian dan peternakan sangat umum dan didukung teknologi modern, maka orang yang berprofesi sebagai pemburu untuk mencari nafkah hidupnya dan keluarganya sudah semakin sedikit.  Akan tetapi berburu untuk kesenangan/rekreasi bisa jadi jumlahnya bisa melebihi pemburu profesional (berburu untuk makan).

berburu dan memancing

Di kota saya tinggal, sangat umum terlihat para pemburu ikan (pemancing) terutama saat hari libur.  Pemancing profesional (untuk makan dan nafkah keluarga) sangat sedikit dibanding pemancing amatir (bukan untuk nafkah tapi lebih pada kesenangan, hobi dan rekreasi).  Bahkan kalau ditanya, ngapain mancing cape-cape dengan biaya alat dan perjalanan yang mahal tidak sebanding dengan hasil yang dibawa pulang, kan lebih murah kalau kita beli ikan di pedagang ikan, sambil becanda jawaban yang sering muncul adalah “kerojotannya itu yang mahal, ga ada di pedagang ikan.” Kerojotan (getaran saat ikan menyambar umpan), itulah yang dicari, kesenangan yang melebihi harga ikannya.  Lihatlah di TV dengan acara yang rutin dan khusus menampilkan para pemancing amatir (just for fun), dengan peralatan mahal, transport (kapal) khusus hanya untuk mencari kerojotannya saja rela membuang tenaga, waktu dan biaya yang banyak, setelah ikan didapat, difoto, disorot kamera, lalu ikannya dilepas lagi dalam keadaan mulutnya terluka.  Hal ini tidak jauh beda dengan para pemburu yang hanya mencari kesenangan saat menarik pelatuk dan hewan buruannya terkulai roboh.

Manusia (laki-laki) pada dasarnya adalah pemburu, ada kesenangan tersendiri saat berhasil menangkap buruannya, bahkan bukan untuk makan tapi murni untuk kesenangan.  Di jaman budidaya dan ternak sudah maju, berburu tetap diperlukan.  Sama halnya dengan berperang, seakan menjadi kebutuhan sebagian laki-laki, di jaman damai tidak ada perang, mereka membentuk kumunitas permainan perang-perangan (airsoft gun) hanya untuk kesenangan.  Mungkin tidak jauh beda juga dengan yang hobi petualang naik gunung menerabas hutan, bertahan hidup di alam liar.  Laki-laki pada dasarnya memang petualang dan pemburu.  Seperti kata Mario Teguh, laki-laki itu tidak suka kemewahan, yang diinginkannya adalah bisa berpetualang kesana-kemari menaklukkan tantangan alam, tapi karena ada kewajiban menanggung hidup isteri dan anak, disitulah juga laki-laki harus mencari nafkah dan kekayaan, tidak melulu mencari kesenangan.

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. (Q.S. An-Nisaa ayat 34)

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *